Habib Rizieq ingatkan Presiden Jokowi - FOCUS WORD

Breaking

FOCUS WORD

Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terkini

inembet

Post Top Ad

Post Top Ad

Bolahok88

Jumat, 09 November 2018

Habib Rizieq ingatkan Presiden Jokowi


Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab mengingatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memperhatikan aparat di dalam dan luar negeri.


Habib Rizieq menjelaskan kronologis kedatangan Kepolisian Arab Saudi ke kediamannya hanya untuk meminta keterangan.

Dia menuturkan, sebelumnya ada seseorang yang telah menempelkan sebuah poster plastik di dinding bagian belakang rumahnya.

"Sehingga rumah kediaman kami didatangi oleh aparat keamanan Saudi Arabia, mereka datang dengan santun, dengan sopan, kemudian meminta saya selaku penghuni rumah untuk menemui mereka di lapangan parkir di belakang rumah saya. Maka saya segera menemui mereka," kata Habib Rizieq berdasarkan keterangannya melalui akun youtube Front TV, Jumat (9/11).

Kemudian, saat dirinya keluar dari kediamannya. Rizieq mengaku poster yang dimaksud sudah tidak ada. "Sudah dicabut oleh aparat keamanan Saudi," katanya.

Sehingga, dia mengaku tidak pernah  melihat poster yang dipasang tersebut. Kemudian, pihak aparat keamanan Arab Saudi meminta kesediaannya untuk ikut ke kantor polisi dalam rangka untuk dimintai keterangan.

Habib pun menuruti ajakan aparat Arab Saudi tersebut. Hal itu agar tidak menjadi perhatian para tetangganya.

"Jadi tidak betul kalau ada berita saya ditangkap, saya ditahan, rumah saya disergap kemudian digeledah, itu semua bohong. Jadi tidak ada penggeledahan, tidak ada penyergapan," jelas Habib Rizieq.

Dia menjelaskan, yang sebenarnya terjadi yaitu aparat datang kemudian menurunkan poster. Lalu, meminta dirinya menemui aparat tersebut guna memberikan keterangan di kantor kepolisian.

HRS pun mengaku ada tiga pertanyaan utama yang dilontarkan kepadanya. "Pertama, apakah saya yang menempelkan poster tersebut? Maka dengan tegas dan singkat saya katakan bukan," sebutnya.
Kemudian pertanyaan kedua yaitu, "apakah saya tau, siapa orang atau pihak yang menempelkan poster tersebut? Maka saya jawab juga dengan singkat dan tegas, saya tidak tau," lanjutnya.

Kemudian pertanyaan yang ketiga, pertanyaannya adalah adakah Rizieq menduga atau mencurigai pihak-pihak tertentu yang ingin mencelakainya. Sehingga, kemudian menempatkan poster tersebut agar Rizieq bermasalah dengan pihak keamanan di Saudi.

Pada bagian ketiga itulah, HRS menceritakan hal yang cukup panjang. Mulai dari keberadaannya di Makkah, tentang apa yang dia hadapi selama ini. Termasuk tentang adanya berbagai macam upaya-upaya jahat yang dilakukan oleh beberapa pihak yang ingin mencelakakan keluarganya.

Dia menceritakan pemeriksaan tersebut berlangsung hingga tengah malam. Sehingga, aparat keamanan pun meminta HRS untuk menginap ditempat tersebut, karena masih ada administrasi kantor polisi yang juga harus diselesaikan.

"Saya setuju. Saya menginap disana, keesokan harinya kemudian dilanjutkan yaitu satu dua pertanyaan, selesai itu kemudian mereka rapikan administrasinya," ujar HRS.

HRS mengatakan pihak kepolisian setempat menyatakan dia sebagai korban, bukan pelaku kejahatan.


Bantuan datang saat HRS akan pulang
Dalam pemeriksaan HRS merasakan pihak keamanan Arab Saudi cukup cermat, teliti, cerdas, santun dan kooperatif.

HRS pun memuji pihak keamanan setempat, karena menurut HRS mereka cukup jeli dalam menggali keterangan-keterangan tersebut.

"Sehingga mereka memutuskan saya ini sebagai korban. Dan saya dipersilahkan untuk kembali," urainya.

Imam besar FPI itu mengaku bahwa memang ada seseorang yang diutus oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia di Jeddah. Hanya saja, menurutnya pada saat dia datang posisi HRS sudah akan pulang.

"Tetapi memang saat itu masalah sudah selesai. Saya hanya tinggal pulang," akunya.
Keesokan harinya, HRS kembali mendatangi pihak kepolisian didampingi oleh utusan dari KJRI. Saat itu HRS mengaku kasusnya telah selesai, pihak kepolisian hanya meminta kesediaannya untuk melaporkan kejadian tersebut, karena ada yang membuat pihak kepolisian setempat tersinggung.

"Di mana ada seseorang yang meletakkan poster di tembok rumah saya, kemudian memfotonya. 

Kemudian setelah itu mereka diduga bersembunyi di salah satu gedung di sekitar gedung-gedung yang ada di sekitar tempat tinggal kami," katanya.

Lalu, saat dia sedang berdialog dengan pihak kepolisian, ada yang mengambil gambar dengan kamera jarak jauh. Kemudian foto tersebut di sebarkan di Indonesia, disiarkan di berbagai televisi. Hal itulah, menurut HRS yang membuat kepolisian Arab Saudi marah dan tersinggung.

Padahal yang dilakukan oleh kepolisian itu adalah hal yang wajar. Sebab di Arab Saudi tidak diperkenankan memasang poster apapun di dalam rumah. Bahkan, bendera Merah Putih pun hanya diperkenankan di kantor instansi milik pemerintah Indonesia, KBRI atau KJRI.


Mengejar Pelaku Pemasangan

Berdasarkan keterangan HRS, pihak aparat keamanan Saudi akan mengejar pelaku pemasangan poster di kediamannya itu. Sebab, pelaku melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap penghuni rumah tanpa izin penghuni rumah, membuat poster membuat masalah.

"Mereka juga dituntut UU ITE yang ada di Saudi Arabia karena ancaman 15 tahun penjara dan denda 2 juta riyal, itu setara dengan Rp8 miliar," jelasnya.

Lebih dari itu, berdasarkan keterangan HRS pelaku juga bisa terkena UU Spionase. Karena kalau terbukti tertangkap melakukan gerakan intelijen asing di dalam wilayah hukum negara Arab Saudi.
Pelaku itu bisa dikenakan hukuman pancung. "Jadi ini tidak main-main, karena itu saya sepakat, saya setuju, kami bekerja sama. Kami kejar mereka," ujarnya.

HRS pun menyebut dia telah membuat laporan tersebut. Pihak kepolisian Saudi juga telah melakukan olah TKP untuk menentukan sudut dari gedung mana, akan melakukan penggeledahan.

"Mereka akan melakukan pencarian, kita doakan saja semoga pelakunya akan tertangkap," harapnya.
Dia mengingatkan agar tidak bermain-main dalam melakukan suatu gerakan intelijen di negara lain. "Karena itu satu pelanggaran yang sangat serius dan hukumannya juga sangat-sangat serius," tegasnya.

Tak lupa, Rizieq mengingatkan Presiden Jokowi untuk memperhatikan aparat-aparat dan pejabat, baik di dalam maupun di luar negeri.

"Jangan biarkan keadilan itu dilanggar, jangan biarkan hukum itu dikangkangi. Anda sebagai presiden anda punya tanggung jawab yang sangat luar biasa, tegakkan keadilan, tegakkan keadilan, tegakkan keadilan, jangan selalu anda hanya fokus kepada pencitraan," tegasnya.

"Pada 6 November 2018 pukul 20.00 waktu Saudi, dengan didampingi oleh staf KJRI, MRS dikeluarkan dari tahanan kepolisian Mekah dengan jaminan," ujar Maftuh dalam keterangan tertulis, Rabu (7/11).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

TOGELHOK88